Mengalir Bagai Air

Situs ini untuk menyimpan semua karya dan apa saja yang mengisi lembaran hidupku yang MENGALUN, MERIAK, dan MENGALIR bagai AIR. Mari kita saling berbagi demi pemajuan peradaban di muka bumi. Mungkin kita tak bisa mengubah apa-apa, tapi setidaknya kita sudah BERBUAT dan BERKARYA walau hanya SETITIK DEBU DI HAMPAR GURUN atau cuma SEBUIH AIR DI LUAS SAMUDERA!

Rabu, 12 September 2007

Kamar 9 B

by: Pradono
Entah siapa yang memulai. Lima kepala telah mengambil posisi. Satu persatu mulai menyatakan diri. Seorang darinya mengangkangi logika-logika. Seorang lainnya melepaskan embel-embel konvensi. Setiap diri beranjak memproklamirkan identitas. Semuanya mengukuhkan diri sebagai kepala berwatak pendobrak di tengah-tengah keramaian normatika.

Semua percaya pada visi masing-masing. Setiap mereka percaya bahwa pendobrakan hari ini akan sanggup menjebol benteng kemapanan kemarin. Mereka yakin bahwa masa depan akan tergenggam di telapak tangan keteguhan. Setiap diri yakin seyakin-yakinnya bahwa dengan menjebol dinding kiri konvensi berarti meruntuhkan dinding kanannya sekaligus. Sejak itu, merdekalah segalanya dari segala kemerdekaan yang terbelenggu kemapanan kulit kacang.

Atmosfir Kamar 9 B berkepulan asap sigaret berbagai merk ini tak mampu lagi membendung tiap maksud dan segala sesuatu yang berseliweran. Segala realita singgah di pelupuk mata. Terhenti sekejap. Saling menatap. Sunyi. Senyap. Pengap. Tiba-tiba segalanya terungkap. Kepala demi kepalapun membentangwujudkan jatidiri.

“Aku tak ingin jadi epigon sebab aku lebih mulia daripada bebek-bebek.”

Sekepul asap dari sebatang kretek melesat dengan penuh keyakinan. Mengalahkan tebalnya empat kali empat meter dinding bujur sangkar yang melingkupi.

Tak ada reaksi perlawanan. Hening. Bisu. Sebisu angin malam di luar jendela. Cahaya bulan-setengah tampak malu-malu menempel di bingkai-bingkai kaca empat perseginya.

“Dalam otak matematisku, tersembul digit-digit kepastian. Satu langkah sama dengan sekian kali sekian. Perlawanan mesti dimulai dan harus berjalan dengan konsisten menuju puncaknya.”

Kamar dingin. Sedingin dinding-dindingnya yang dimesrai embun malam yang merayap menyapa dinihari. Lingkar cahaya bulan semakin menepi mengikut hasrat rotasi mengecup bibir cakrawala. Asap makin menyesak paru-paru, legam dilumuti kental nikotin.

“Inspirasiku yang tergantung di awang-awang melambai-lambai mesra. Tak hendak berhenti. Selalu menggebu-gebu ingin disetubuhi. Jari-jemari tinggal memetik satu demi satu.”

Kepenatan yang terangkum dalam perjalanan satu hari ini terlemparkan ke atas ranjang. Biarlah ia terbuai bersama sekeringnya keringat di sekujur tubuh. Berbaurnya antara kepenatan dan kebuaian mesra itu. Tak pula ternafikan menegangnya persendian dan sekumpulan urat-urat.

Keliaran imaji itu tertangkap juga. Keliaran imajinasi selalu minta dilayani begitu anak kunci orgasmenya memutar mencari wadah pelampiasan. Akumulasi segala yang terlintas dan terlisankan telah terjinakkan.

Lembar-lembar waktu berlalu tak dihasrati hanya berisi kekosongan. Betapa kesedihan diri ketika terbentur pada kekosongan. Kehampaan di tengah-tengah riuh rendah keramaian. Betapa berharganya sekelumit imaji. Sangat tak sebanding dengan perlakuan angkuh yang menyelimuti diri. Ruang gerak imajinasi mesti diberikan keleluasaan.

“Hasil adalah masa depan. Karya adalah bayi manis yang mungil atas setiap eksistensi. Bukan eksistensi yang utopis yang merangkak pada ketinggian yang ujung-ujungnya bermuara takut digumpal kecemasan paling cemas akan kejatuhan. Eksistensi utopis berwajah retorik tak lebih abadi daripada selembar kekenyangan seekor nyamuk rakus, menghisap darah mangsanya, buncit, sayappun lunglai dan jatuh bergedebung pada sekotak lantai tegel putih.”

Kepenatan yang terangkum dalam perjalanan satu hari ini kian terasa menuju kelegaan. Keringnya keringat di sekujur tubuh kian terasa bermakna. Ketegangan persendian bergulir melancarkan arus relaksasi. Hanya kepulan asap yang enggan meninggalkan ruang.

“Kehilangan kecerdasan memulai kalimat pertama adalah malapetaka besar bagi kelanggengan eksistensi. Setelah itu, jangan bermimpi mendaki gunung. Jangan berkhayal merekamkan kalimat abadi. Jangan mengigau bahwa besok pagi tersembul matahari.”

“Ya, malapetaka itu adalah malapetaka bersama. Malapetaka bagi yang berniat jadi pengabdi dan pelaksana kata-kata. Malapetaka bagi pengabadi sejarah. Malapetaka bagi malapetaka negeri yang mengabaikan kata-kata. Malapetaka bagi malapetaka bagi rakyat dan pemimpinnya yang mengabaikan sejarah.”

“Kita harus mendobrak dinding kebekuan. Negeri ini harus melek dari segala huruf. Segala kata-kata. Segala sejarah. Kita harus lebih gencar mencanangkan aksi pembacaan. Harus memelekkan diri dari segala keterpurukan di depan mata. Harus memelekkan hati bahwa belajar dari kesalahan adalah lebih mulia daripada masuk ke lubang dua kali bagai keledai tanpa kendali.”

Kepulan asap ternyata semakin berkontribusi memicu metabolisme adrenalin lima kepala di kamar empat persegi itu. Seorang demi seorang kian mengurai logika dan retorika. Tergambar upaya melepas diri dari keterkungkungan masing-masing ego-diri.

“Inilah konsekuensi eksistensi. Konsekuensi untuk memberikan kontribusi tanpa pamrih. Pamrih epigonis. Pamrih utopis. Pamrih oportunis. Koreksi atas kesalahan pemahaman dan faham mesti dilancarkan.“

Entah siapa yang memulai mengakhiri perbincangan. Tak ada negosiasi. Tak ada reaksi perlawanan. Hening. Bisu. Tetap sebisu angin malam di luar jendela. Setemaram cahaya bulan-setengah yang masih tampak malu-malu dilingkup awan mendung.

Hanya atmosfir Kamar 9 B berkepulan asap sigaret berbagai merk yang kini sedikit merasa lega. Kamar bujur sangkar ini kini baru mulai sempat menghirup keleluasaan dan kelegaan. Bendungan tiap maksud dari lima kepala itu kini perlahan-lahan merembeskan udara segar senapas dengan antiklimaks adrenalin mereka.

Kini yang tinggal hanya Kamar 9B bertemankan keheningan. Kebisuan. Kesunyian. Dialah yang akan menjadi saksi perjalanan para pengabdi dan pelaksana kata-kata yang kini tengah asyik terbuai mimpinya sendiri-sendiri. Esok siang mereka akan menyaksikan mataharinya dan kembali bertarung dengan realitas di negeri setriliun janji dan retorika. Entah siapa yang memulai. Namun, konsekuensi harus dilancarkan. (*)

Label:

Selasa, 11 September 2007

Kisah Tak Berujung

by: Pradono

Merah Putih tercabik-cabik di Bumi Kopyang
Lambangkan perilaku jahiliyah tak terhalang
Atas para syuhada yang rebah bersimbah darah


Terfitnah mendurhaka Jepang si penjajah

Merah Putih tercabik-cabik tercabik-cabik
Luluh lantak tercabik-cabik
Sementara tiap jiwa setiap masa diam tak berkutik
Entahkah kesedihan dan keperihan menitik
Ataukah bisu seribu bahasa sejuta muslihat dan taktik

Inikah balas jasa anak bangsa yang meraup jaya
Atas nama para syuhada tak berdaya
Ya, apatah mereka tak berdaya
Di selaput pandang mata tak bermata
Di gumpal hati mati tak bernyawa
Di lubuk kalbu tak bermalu para pendurhakanya

Mandor, kausingkap kedurhakaan anak bangsamu
Kaulah tragedi setiap generasi sepanjang waktu
Kaulah kisah tak berujung para anak cucu

Apatah para syuhada harus bicara
Atas angkara yang merobek Merah Putihnya


DI SEBUAH KAWASAN. HAMPARAN LUAS PASIR PUTIH. LUBANG-LUBANG MENYERUPAI DANAU TERSEBAR DI BEBERAPA TEMPAT. DI KAWASAN ITU PULA, LEBIH DARI DUA BUAH MESIN-MESIN PENAMBANG EMAS TANPA IZIN SEDANG BEROPERASI. TERLIHAT BEBERAPA ORANG PEKERJANYA SEDANG SIBUK MENGAMATI HASIL GALIAN MESIN TERSEBUT. TANPA SEPENGETAHUAN PARA PEKERJANYA, BEBERAPA TOKOH YANG ENTAH DATANG DAN BERASAL DARI MANA, TAMPAK SEDANG BERDEBAT. ENTAH APAPULA TEMA DAN TOPIKNYA.

+ Apa yang dapat ditinggalkan bagi anak cucu ketika permukaan mayapada hanya hamparan kegersangan?

- Ah. Kau hanya berfilsafat dengan retorika murahan. Apa kau tak punya nalar yang lebih berbobot dan realistis!

+ Apa?

- Ingat, kawan! Kita menginjak bumi kasat mata. Kita berdiri di atas hamparan realita. Aktifkanlah sinyal pancainderamu. Bukalah telinga, dengarkan gemuruh masa depan lewat mesin-mesin pencipta lembar-lembar kekuasaan ini.

+ Apa!

- Apakah tak kaurasakan di seluruh urat nadi mereka mengalir denyut-denyut masa depan? Apakah tak kaudengarkan gemerincing kemilau kemakmuran? Ah, kawan. Engkau terlalu sentimentil. Apalah artinya retorika tanpa masa depan!

+ Apakah aku tidak sedang bermimpi?

- Kawan. Sudah aku katakan kita berdiri di atas hamparan realita!

+ Jadi?

- Kawan. Engkau telah mempertontonkan kebodohanmu sendiri. Bagaimana engkau sanggup berjuang dan memperjuangkan. Bisamu hanya berpatah-patah kata. Membuka cerita tanpa alur dan kesimpulan. Apa? Apa! Jadi? Hanya itu yang kaubisa katakan. Ah. Jenis sepertimu inilah makanan empuk para nafsu berkuasa. Engkau tak lebih seekor lalat comberan yang sekali jentik, .... plek, plek, plek ... mampus! Jadi, aku tak salah. Engkau hanya menjual retorika murahan ...!

Rupanya sang dewa realita telah turun dengan wejangan-wejangan agungnya. Rasa ingin tahuku semakin menggebu-gebu, gerangan apa yang telah terjadi. Apakah aku telah kehilangan tema. Boleh aku nimbrung dalam majelis agung ini ....

+ Dengan penuh ketulusan. Siapapun berhak berada di sini. Inilah ruang tanpa kelas dan status. Ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Ruang tanpa prasangka.

Terima kasih, kawan-kawan. Tampaknya realita telah pula menjelma menjadi dewa yang begitu mudahnya masuk ke segenap ruang jiwa. Jiwa yang hampa seperti kawan kita yang satu ini.

+ Realita menurut kawan kita ini adalah realita itu sendiri. Tak perlu diperdebatkan lagi keberadaannya, tapi cukup disaksikan saja sehingga tak lagi nyata di selaput pandang mata tak bermata. Tak lagi bermakna di gumpal hati mati tak bernyawa. Tak lagi bercahaya di lubuk kalbu tak bermalu. Apakah lagi ketika meluncur dari suara bijak sang dewa realita kita ini.

- Apa!?

Ah, ke mana arah pembicaraan ini. Kudengar tadi katanya kita ini berada di ruang tanpa prasangka, tapi rupanya kalian semakin jelas dan tegas berpijak pada dua kutub yang berbeda. Rupanya aku telah ketinggalan orientasi. Baiklah, ada yang ingin menjelaskan....?

- Awalnya, adalah soal manusia dan alam lingkungannya. Pencipta mereka telah memberikan anugerah hidup dan kehidupan bagi keduanya. Kedua pihak ini masing-masing diberikan amanah, hak dan kewajiban. Tentu dengan konsekuensi masing-masing pula.

+ Jelas maksudnya. Siapa berbuat dialah yang memetik hasilnya. Itulah yang disebut realita oleh kawan kita ini. Jadi, menurutku tinggal bagaimana manusia itu sendiri bisa memisahkan mana yang benar dan tak benar. Mana yang haknya dan mana yang hak pihak lain. Bumi dan segala isinya telah disediakan oleh Sang Maha Pencipta sebagai sumber rezeki. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya.

- Ya. Realita adalah realita yang sudah semestinya bermakna hasil yang dipetik. Pihak manusialah yang paling bertanggung jawab atas segalanya karena merekalah yang dibalut oleh keinginan dan nafsu. Sedangkan alam sekalipun juga bernama makhluk, agaknya lebih berada pada posisi pasif dan pasrah. Mereka ibarat barang-barang stok dan pelayan sekaligus. Itulah realita. Lagi-lagi ... re-a-li-ta. Lalu, apa yang mesti kita perdebatkan lagi. Semua telah berjalan sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Penciptanya.

+ Sekeliling kita berdiri ini hanya hamparan pasir putih. Lubang kawah di mana-mana. Deru suara mesin-mesin itu kedengarannya semakin bernafsu menyedot kemilau isi bumi: masa depan dan kemakmuran menurutmu, bukan? Pohon-pohon yang berdiri itu kelihatannya takkan bisa lebih lama lagi mempertahankan dirinya dan segera rebah. Akhirnya, takkan lebih lama pula para manusia dan nafsunya akan memetik hasil perbuatan mereka.

Bumi mana yang kita pijak ini?

- Mereka menyebutnya Mandor.

Mandor ... Mandor ... Mandor. Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu. Man-dor! Ya. Mandor! Apakah yang kaumaksudkan Mandor itu adalah ladang pembantaian satu generasi Negeri Khatulistiwa bernama Kalimantan Barat yang dilakukan oleh fasis Dai Nippon itu?

+ Tepat sekali! Tapi rakyat negeri ini lebih mudah menyebut fasis itu dengan penjajah Jepang. Menurut sejarah negeri ini, penjajah inilah yang telah membantai satu generasi dari berbagai kalangan, status dan profesi sebagai tokoh-tokoh unggulan rakyat negeri ini, yang mereka anggap telah mendurhaka kepada Dai Nippon.

Apakah ini alasan realistis para fasis itu?

- Maksudmu?

Ya. Apakah tidak lebih realistis bahwa fasis itu sesungguhnya mengincar kandungan isi bumi negeri ini, yang Anda sendiri menyebutnya sumber kemakmuran dan masa depan itu? Mereka adalah penjajah! Bukankah mereka ketika itu sedang berperang? Mereka adalah musuh bagi musuh yang lain! Bukankah mereka perlu modal dan sekaligus masa depan untuk dibawa pulang ke negeri asal mereka setelah perang berakhir? Boleh jadi mereka telah mendengar bahwa isi perut bumi Mandor ini berkemilau emas. Ah, Anda seperti tak paham saja tabiat para penjajah.

+ Ya. Kukira ada benarnya juga. Mereka mungkin terlalu percaya diri bahwa merekalah sang pemenang. Ternyata sejarah berbicara sebaliknya. Pembantaian rakyat negeri ini adalah realita yang lain lagi. Mereka anggap inilah alasan realistis atas realita yang lain. Sebut saja suatu ketakutan dari terbongkarnya sebuah skenario besar atas niat sesungguhnya Dai Nippon menguras isi perut Mandor sehingga dengan berbagai tipu muslihat mengajak para petinggi negeri ini dengan alasan bermusyawarah untuk memikirkan nasib dan masa depan negeri ini karena akan dijajah oleh bangsa lain.

Padahal sesungguhnya pihak Dai Nippon itu telah kalah karena negeri asal mereka telah dibumihanguskan oleh tentara Sekutu, musuh yang lain bagi mereka. Jadi, mereka membantai para tokoh unggulan dan puluhan ribu nyawa yang lain itu agar tidak memberontak karena mereka telah kehilangan kekuatan. Begitu maksud Anda?

+ Ya! Begitu kira-kira.

- Lalu, kesan apa yang kalian tangkap?!

+ Rupanya ada juga retorika murahan andalanmu.

- Apa peduliku! Kau sendiri mengatakan bahwa ini adalah ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Tidakkah kausaksikan bahwa generasi berikut negeri ini lebih bernafsu menggali isi perut buminya dibandingkan menggali kebenaran sejarah yang menimpa para patriot pendahulunya. Apakah ini bukan kelanjutan propaganda skenario Dai Nippon itu? Apakah ini bukan perlambang bahwa perilaku jahiliyah tetap akan abadi dan tak terhalang? Padahal para syuhada mereka rela rebah bersimbah darah demi mempertahankan setiap jengkal milik mereka. Nama apa yang pantas kausandangkan atas perilaku generasi penerus mereka ini?

+ Baik. Lalu apa semestinya yang dilakukan generasi penerus para syuhada negeri ini?

- Seperti katamu, retorikaku murahan. Aku tak ingin menggurui mereka apa yang semestinya mereka perbuat. Mereka adalah generasi para cerdik cendekia negeri ini. Mereka seharusnya sudah mengerti apa yang seharusnya. Bukankah mereka telah diajarkan lewat sebuah adagium bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya”? Bukankah itu sudah cukup menjadi pedoman bagi mereka?

Begini saja, kawan-kawan. Rakyat negeri ini adalah generasi para pejuang. Biarkan mereka terus memperjuangkan kehormatan negerinya. Para pendahulu mereka telah rela mengorbankan jiwa raga demi Ibu Pertiwi-nya. Tentu saja, di antara mereka ada yang hidup hanya demi memenuhi keinginan nafsu mereka. Untuk itu mereka disebut para pengkhianat bangsa sendiri. Menurutku, di atas bumi yang kita injak ini tengah berproses apa yang kusebut neokolonialisme. Mungkin kalian lebih suka menyebutnya neoimperialisme. Atau apalah namanya itu.

+ Ironis, memang. Bangsa yang katanya telah merdeka ini ternyata dijajah dan dikuras kembali oleh saudara sebangsanya. Mungkin sebutan yang tepat bagi mereka ini adalah kolonial berambut gelap. (Mandor, 9 Mei 2004)

Label:

Senin, 10 September 2007

Wajah Depan Telaga

by Pradono

Marwan diam. Benaknya bermain-main di permukaan telaga. Telaga yang juga diam itu memiliki banyak kesamaan dengan keadaan Marwan. Permukaannya tenang. Hanya sesekali airnya beriak halus. Perlahan disapu lembut selintas angin sementara mulut bulatnya tampak teduh dilingkupi helai-helai daun pisang yang menjuntai membayangi di atasnya.Kebun pisang pun diam. Pelepah-pelepah lebar daunnya menyebabkan sedikitnya sinar matahari siang yang dapat menerobos. Suasana rindang di kawasan itu terasa sekali. Semilir angin yang mengepakkan helai dedaun menumbuhkan nuansa keteduhan. Telaga yang tenang semakin tampak sendu oleh keteduhannya. Tapi keteduhan itu amat berbeda dengan tarikan napas Marwan.Marwan masih diam. Entah sudah berapa lama ia di sana. Ia bersandar di sebuah pohon pisang. Dagunya tersangga pada kedua lutut yang ditekukkannya. Kedua tangannya begitu erat memeluk kedua betisnya. Sedari tadi, bola-bola matanya hanya menatap permukaan telaga yang berjarak satu meter dari kedudukannya. Tatapan itu tiada bernada. Lurus. Kosong. Hampa. Tanpa penafsiran.Benak Marwan terusik ketika satu gemericik halus telah menyebabkan air permukaan telaga beriak lembut. Pola gerakan yang membentuk lingkaran obat nyamuk itu tak sempat terhitung oleh matanya. Entah sudah berapa kali riak-riak air telaga melingkar. Entah benda apapula yang menjatuhinya. Gerak riak air telaga menggugah Marwan bereaksi. Kepalanya terangkat sedikit, lurus ke arah lingkaran yang kian melebar ke bibir telaga. Marwan tak lagi sediam tadi. Satu tarikan napas panjang dihembuskannya dengan panjang berdesah. Ia melepaskan pelukan pada kedua betisnya. Ia rebahkan ke tanah kedua telapak tangannya. Kedua kakinya dilunjurkannya. Telapak kaki bersandal jepit itu bergerak-gerak ke kanan ke kiri, perlahan, berulang-ulang. Seakan-akan melepaskan kepenatan yang merayap di sekujur persendiannya. Kini pandangannya telah beralih. Dalam posisi kepala menengadah, ia tatap pula lambaian ujung-ujung dedaun pisang yang disandarinya.Untuk kali pertama ada perubahan di wajahnya. Kelopak matanya menyipit. Perubahan itu teramat khas. Tak sama dengan ketika ia merespons gemericik permukaan air telaga, yang mengusik benaknya tadi. Tatapan itu mengandung ekspresi menyelidik. Entah kesan apa yang melekat di benaknya.*****Di benak Marwan, lambaian itu bukanlah sekadar daun pisang yang bergerak-gerak. Dedaun itu adalah wujud telapak tangan yang jari-jemarinya melambai-lambai ke arahnya. Lemah. Tak berdaya. Makin lama, lambaian itu semakin jelas dalam pandangan Marwan.Di hadapannya tak ada lagi dedaun pisang. Di sekitarnya tak wujud lagi pohon-pohon pisang. Tiada pula telaga. Tiada lagi keteduhan sinar matahari di kawasan kebun pisang. Ketenangan dan kelengangan di sekitarnya telah berubah warna. Berubah nada. Berubah suasana. Berbeda rupa. Semua itu telah berganti nuansa.“Marwan,“ senada suara lembut menyeru kepadanya.Namun, Marwan masih saja diam. Tatapannya masih saja mengarah kepada lambaian tangan tak berdaya di pelupuk matanya. Lambaian itu makin lama semakin mendekat ke arahnya. Melayang-layang di awang-awang. Tak wujud sosok pemilik lambaian itu. Namun, ekspresi di wajah Marwan penuh makna menanggapinya. Tatapannya seakan-akan tak sedikitpun mau beralih dari lambaian tersebut.“Marwan, bangkitlah!” nada suara seruan itu tak selembut semula. Sedikit meninggi seolah-olah ingin menyadarkan Marwan mengalihkan tatapannya.Marwan tetap diam. Gerak kakinya telah lama terhenti, tapi gelombang-gelombang di dadanya justeru makin bergelora. Mendesak-desak paru-paru. Memompa kuat denyut jantungnya. Namun, terkesan perasaannya ingin tetap bertahan dalam kediamannya itu.“Marwan, kemarilah!“Ternyata seruan itu ada hasilnya. Mata Marwan berkedip. Tak hanya sekali. Sejenak ia tercenung. Pandangan menyipitnya terhenti. Bukaan kelopak matanya melebar. Kedua bolanya bergerak. Melirik perlahan-lahan. Sesekali ke kanan. Sesekali ke kiri. Masih bernada menyelidik.“Beginikah caramu menghadapi persoalan. Beginikah engkau menyelesaikan masalah. Menyendiri dalam kesunyian. Mengadu kepada telaga ini. Apakah menurutmu dengan begini persoalan akan selesai?” suara itu terekam jelas ke gendang telinga Marwan.Marwan tersentak. Dengan jelas ia mendengar suara itu meski berat tersendat-sendat. Dengan mudah pula ia mengingat kalimat demi kalimat. Tiba-tiba ia berdiri. Langkahnya gontai. Perlahan-lahan surut ke belakang. Ia tampaknya berusaha menjauhi suara itu.“Marwan, kenapa kau berlama-lama di sini. Jarum-jarum waktu terus berlalu. Hari demi hari berganti. Terus memacu tanpa mau menunggu. Apakah kesunyian telaga ini menjadi teman berkongsi perasaan denganmu? Pulanglah!“Dalam diamnya ia tampak mencoba menguasai deburan gelombang di dadanya sebelum mengeluarkan kata-kata. Namun, akhirnya ia berhasil mengatasi gejolak dan deburan itu. Ia tarik napas panjangnya. Meski perlahan dan dengan nada berat sepatah demi sepatah kata meluncuri bibirnya selepas ia mendesahkan sesak udara di rongga dadanya.“Ya. Mungkin aku telah mengambil keputusan seperti ini untuk menyelesaikan persoalan. Di tempat yang sunyi. Tak ada orang lain yang tahu. Tiada sesiapa yang perlu tahu tentang apa yang aku rasakan sekarang ini. Telaga ini mungkin mau menampung luahan perasaanku. Sekarang, biarkanlah aku sendiri di sini. Aku tak ingin pulang.““Mungkin engkau benar. Di tempat ini memang tak ada orang lain. Kau tak ingin orang lain tahu dan merasakan apa yang kaurasakan. Tapi, apakah dengan begitu engkau menganggap persoalan yang sebenarnya akan turut pula selesai bersama kesendirianmu ini? Benarkah tak ada yang lain yang tahu?“ suara itu seakan-akan mengingatkan Marwan pada sesuatu hakikat.Marwan kini terpaku. Ia mencoba memahami kata demi kata itu. Ada sesuatu yang seketika itu menggugah batinnya yang mengiring kalimat demi kalimat itu. “Tak ada yang lain ...?“ batinnya berucap mengulang-ulang itu.“Marwan, pulanglah!“Suasana rindang kawasan kebun pisang itu agaknya telah berpindah tempat. Begitu pun semilir angin yang mengepakkan helai dedaunnya. Juga telaga yang tenang kini tak lagi sesendu semula. Keteduhannya kini mewujudkan keteduhan tarikan napas Marwan. (*)

Label: